
JAKARTA, PANCAR BANUA NEWS – Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berdampak terhadap aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia. Sebaran abu vulkanik yang memasuki ruang udara membuat sejumlah penerbangan dibatalkan maupun mengalami penyesuaian jadwal.
Salah satu dampak paling signifikan terjadi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten. Operasional bandara sempat dihentikan sebagai langkah antisipasi terhadap keberadaan abu vulkanik yang berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.
Keputusan penghentian operasional tersebut tercantum dalam NOTAM Nomor A3341/26. Pada awalnya, penutupan Bandara Soekarno-Hatta direncanakan berlangsung pada Minggu dini hari pukul 01.30 hingga 05.30 WIB.
Kebijakan darurat tersebut ditetapkan setelah dilakukan pemeriksaan paper test pada Minggu dini hari sekitar pukul 00.35–01.05 WIB. Hasil pemeriksaan mengonfirmasi adanya material abu vulkanik di area bandara.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi otoritas untuk mengambil langkah penghentian sementara operasional penerbangan. Keputusan itu dilakukan sebagai bagian dari upaya mengutamakan keselamatan penerbangan, mengingat abu vulkanik dapat menimbulkan risiko terhadap mesin dan sistem pesawat.
Namun, kondisi di lapangan ternyata belum memungkinkan untuk membuka kembali operasional sesuai jadwal awal. Masa penutupan Bandara Soekarno-Hatta akhirnya diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB.
Perpanjangan tersebut menunjukkan bahwa otoritas penerbangan masih harus memastikan kondisi ruang udara dan lingkungan bandara benar-benar aman sebelum aktivitas penerbangan kembali dijalankan secara normal.
Ratusan Penerbangan Terdampak
Gangguan akibat erupsi Anak Krakatau tidak hanya dirasakan di Bandara Soekarno-Hatta. Dampaknya menjalar ke sejumlah bandara lain karena banyak penerbangan memiliki konektivitas dengan Jakarta.
Sejumlah penerbangan domestik maupun internasional mengalami pembatalan, penundaan, serta penyesuaian jadwal. Kondisi tersebut juga berpotensi menyebabkan efek berantai terhadap penerbangan lanjutan di berbagai daerah.
Di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, sejumlah penerbangan dilaporkan mengalami pembatalan dan penyesuaian jadwal. Sementara di Bandara Internasional Supadio Pontianak, penerbangan dari dan menuju Jakarta juga terdampak.
Hal serupa terjadi di Bandara H. AS Hanandjoeddin, Belitung, serta Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang.
Abu Vulkanik Jadi Ancaman Serius bagi Penerbangan
Abu vulkanik merupakan salah satu bahaya serius bagi penerbangan. Partikel abu yang masuk ke dalam mesin pesawat dapat menyebabkan gangguan pada mesin, selain berpotensi mengganggu sistem pesawat dan jarak pandang.
Karena itu, penghentian sementara penerbangan merupakan langkah keselamatan yang harus dilakukan ketika kondisi ruang udara dinilai belum aman.
Maskapai juga melakukan penyesuaian jadwal berdasarkan perkembangan kondisi lapangan dan informasi dari otoritas penerbangan.
Penumpang Diminta Memeriksa Status Penerbangan
Dengan kondisi yang masih dapat berubah, calon penumpang diminta untuk tidak langsung menuju bandara sebelum memastikan status penerbangannya.
Penumpang disarankan memeriksa informasi terbaru melalui kanal resmi maskapai maupun pengelola bandara. Bagi penumpang yang penerbangannya terdampak, maskapai akan memberikan informasi mengenai opsi penjadwalan ulang atau ketentuan lainnya sesuai kebijakan dan peraturan yang berlaku.
Pemerintah dan otoritas terkait terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau serta pergerakan abu vulkanik di ruang udara.
Masyarakat juga diimbau tetap mengikuti informasi resmi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.





