Example floating
Example floating
BanjarRagam BeritaSerba-Serbi

Karhutla Kabupaten Banjar Belum Mereda, Asap Ancam Kesehatan dan Ekonomi Warga

21
×

Karhutla Kabupaten Banjar Belum Mereda, Asap Ancam Kesehatan dan Ekonomi Warga

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
Foto Ilustrasi: Saat para relawan berjibaku memadamkan titik api

Martapura, PancarbanuaNews – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Di tengah musim kemarau dan kondisi lahan yang kering, titik kebakaran masih muncul di sejumlah wilayah sehingga asap terus menghantui aktivitas warga.

Data yang disampaikan Pemerintah Kabupaten Banjar menyebutkan, hingga 13 September 2026 tercatat 305 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 2.086,638 hektare. Kebakaran tersebut tersebar di 70 desa pada 13 kecamatan. Sejumlah wilayah yang terdampak antara lain Cintapuri Darussalam, Martapura Barat, Martapura Timur, Sungai Tabuk, Gambut dan Beruntung Baru.

Example 300x600

Kondisi terbaru menunjukkan penanganan masih berlangsung. Pada Sabtu (19/9/2026), tim gabungan BPBD, TNI, Polri dan relawan kembali melakukan pemadaman karhutla di Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat. Api yang membakar semak belukar dan pepohonan bahkan sempat mendekati jaringan listrik tegangan tinggi sehingga proses pemadaman harus dihentikan sementara demi keselamatan petugas.

Asap Mulai Menjadi Persoalan Kesehatan

Karhutla tidak hanya meninggalkan lahan terbakar. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran, asap menjadi persoalan yang langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar yang dikutip dalam laporan pemerintah daerah mencatat 9.718 kasus ISPA secara kumulatif pada periode 5 Juli hingga 5 September 2026. Pemerintah daerah juga meminta pelayanan kesehatan diperkuat, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil dan lanjut usia.

Paparan asap karhutla membawa partikel halus yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa perih, mata teriritasi dan sesak napas dapat muncul ketika kualitas udara memburuk.

Dampaknya juga merambah dunia pendidikan. Sekolah yang terdampak kabut asap diperbolehkan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah sebagai upaya melindungi peserta didik dan warga sekolah dari paparan asap.

Kondisi ini menunjukkan bahwa karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan. Ketika asap masuk ke ruang kehidupan masyarakat, konsekuensinya ikut menyentuh kesehatan keluarga, aktivitas belajar anak dan produktivitas masyarakat.

Ekonomi Warga Ikut Tertekan

Dampak lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah sektor ekonomi masyarakat.

Ketika asap pekat menyelimuti wilayah tertentu, aktivitas warga di luar ruangan cenderung berkurang. Pedagang yang mengandalkan pembeli langsung, pekerja lapangan, petani, pengemudi, hingga pelaku usaha kecil dapat mengalami penurunan aktivitas.

Bagi pedagang kecil, berkurangnya mobilitas masyarakat berarti berkurangnya peluang transaksi. Sementara bagi pekerja yang sehari-hari bekerja di luar ruangan, kondisi udara buruk dapat membuat aktivitas kerja harus dikurangi atau disesuaikan.

Karhutla juga berpotensi menimbulkan biaya tambahan bagi keluarga. Ketika anggota keluarga mengalami gangguan kesehatan akibat asap, pengeluaran untuk pemeriksaan, obat-obatan dan transportasi ke fasilitas kesehatan dapat meningkat.

Dengan demikian, dampak ekonomi karhutla tidak selalu terlihat dalam bentuk kerugian akibat lahan terbakar. Ada pula biaya sosial dan ekonomi tidak langsung, mulai dari menurunnya produktivitas, terganggunya aktivitas perdagangan hingga meningkatnya pengeluaran rumah tangga.

Bukan Sekadar Memadamkan Api

BPBD Kabupaten Banjar menyebut penanganan karhutla terus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, pemadam kebakaran, PMI dan relawan. Namun, petugas masih menghadapi sejumlah kendala seperti akses lokasi, keterbatasan sumber air dan karakteristik lahan gambut yang membuat api sulit dikendalikan.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api ketika kebakaran sudah terjadi. Pencegahan, pemantauan titik rawan, perlindungan kesehatan masyarakat dan pemulihan aktivitas ekonomi warga juga menjadi bagian penting yang perlu berjalan bersamaan.

Pemerintah Kabupaten Banjar sendiri telah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap.

Bagi masyarakat, persoalan karhutla pada akhirnya bukan hanya tentang berapa hektare lahan yang terbakar. Pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah berapa banyak warga yang harus berobat, berapa banyak anak yang harus belajar dari rumah, serta berapa banyak pedagang dan pekerja yang kehilangan pendapatan akibat aktivitas yang terganggu.

Selama api dan asap masih muncul, karhutla menjadi persoalan bersama yang membutuhkan penanganan tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan—agar masyarakat Kabupaten Banjar dapat kembali beraktivitas dengan aman dan produktif.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *