Pancarbanuanews-Banjarmasin.Kisah perjuangan Ibu Misriani, seorang penyandang disabilitas yang selama bertahun-tahun tinggal di rumah peninggalan orang tuanya, menyisakan keprihatinan. Di tengah keterbatasan fisik dan kondisi ekonomi yang serba terbatas, Misriani tetap berusaha bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membiayai pendidikan anaknya.
Berdasarkan rekaman video akun reels Leon Syah yang beredar, Misriani diketahui telah menempati rumah tersebut sejak bayi bersama orang tuanya, Anang Syahrun. Setelah sang ayah meninggal dunia, ia tetap tinggal di rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya sejak kecil.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Misriani berjualan di lingkungan SDN Basirih 10 Banjarmasin. Penghasilan dari berjualan tersebut tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dirinya, tetapi juga untuk membiayai anaknya yang kini duduk di kelas II SMP Negeri 20 Banjarmasin.
Namun, perjuangan tersebut kini menghadapi persoalan baru. Misriani mengaku terkejut sekaligus sedih ketika mengetahui dirinya tidak lagi mendapatkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).
Informasi tersebut, menurut pengakuannya, ia peroleh dari pihak Dinas Sosial setempat. Dari penjelasan yang diterimanya, terdapat data yang menunjukkan bahwa identitas berdasarkan KTP atas nama Misriani tercatat pernah digunakan untuk pemasangan KWH meter listrik dengan daya 900 VA.
Persoalannya, Misriani mengaku tidak pernah melakukan pemasangan KWH meter listrik 900 VA sebagaimana yang tercatat dalam data tersebut.
“Saya tidak pernah memasang KWH 900 VA itu. Saya juga kaget ketika diberitahu kenapa bantuan PKH saya tidak lagi diterima,” demikian keluh Misriani, sebagaimana pengakuannya.
Kondisi tersebut membuat Misriani merasa sedih dan getir. Sebab, bantuan sosial selama ini menjadi salah satu penopang bagi dirinya yang memiliki keterbatasan dan masih harus berjuang membiayai kebutuhan sekolah anaknya.
Diduga Ada Penyalahgunaan Identitas
Muncul dugaan bahwa data identitas Misriani berpotensi digunakan oleh pihak lain untuk keperluan pemasangan sambungan listrik. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan penelusuran dan klarifikasi dari instansi terkait maupun pihak yang tercatat sebagai penyedia layanan listrik.
Karena itu, diperlukan pemeriksaan terhadap data administrasi kependudukan dan data pelanggan listrik untuk memastikan apakah benar pemasangan KWH tersebut dilakukan oleh Misriani atau terdapat kesalahan maupun penggunaan identitas tanpa sepengetahuannya.
Persoalan ini juga menjadi penting karena data tersebut diduga berkaitan dengan status penerimaan bantuan sosial yang sangat dibutuhkan Misriani.
Berharap Ada Verifikasi dan Penyelesaian
Misriani berharap pemerintah melalui Dinas Sosial dan instansi terkait dapat melakukan verifikasi secara menyeluruh terhadap data dirinya.
Ia juga berharap apabila setelah dilakukan pemeriksaan ternyata terdapat kesalahan data atau penyalahgunaan identitas, persoalan tersebut dapat segera diperbaiki sehingga dirinya tidak kehilangan hak atas bantuan sosial yang seharusnya diterima.
Kisah Misriani menjadi gambaran bahwa persoalan administrasi dan ketidaksesuaian data dapat berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat rentan. Terlebih bagi penyandang disabilitas yang masih harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memastikan anaknya tetap dapat bersekolah.
Dari kisah ibu misriani semoga ada pihak yang memiliki kepedulian turut membantu permasalahan bantuan PKH sehingga Ibu Misriani mendapatkan haknya kembali, ataupun ada para dermawan yang memiliki kepedulian terhadap kisah getir kehidupan Ibu Misriani.





