Example floating
Example floating
ArtikelRagam OpiniRuang UMKM & Bisnis

Memaknai Hari Kesaktian Pancasila: Memperkuat Pondasi Kebangsaan melalui Ekonomi Kerakyatan dan Kearifan Lokal Banjar

17
×

Memaknai Hari Kesaktian Pancasila: Memperkuat Pondasi Kebangsaan melalui Ekonomi Kerakyatan dan Kearifan Lokal Banjar

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: M. Chairil Anwar

Example 300x600

Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Di tengah perubahan sosial, tekanan ekonomi, perkembangan teknologi dan semakin kuatnya arus globalisasi, momentum ini seharusnya menjadi ruang refleksi tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.

Kesaktian Pancasila pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana Pancasila mampu bertahan sebagai dasar negara, tetapi juga tentang sejauh mana nilai-nilainya mampu menjadi kekuatan yang hidup dalam masyarakat.

Salah satu persoalan penting yang perlu mendapat perhatian adalah ketahanan ekonomi masyarakat. Sebab, bangsa yang memiliki pondasi ekonomi kerakyatan yang kuat akan memiliki daya tahan sosial yang lebih baik.

Pancasila tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan negara, tetapi juga tentang bagaimana keadilan, gotong royong, kemanusiaan dan kesejahteraan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ekonomi Kerakyatan sebagai Wujud Nyata Pancasila

Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, memberikan pesan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga harus menghadirkan pemerataan kesempatan.

Di sinilah ekonomi kerakyatan menemukan relevansinya.

Ekonomi kerakyatan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Petani, nelayan, pedagang kecil, pelaku UMKM, pengrajin, kelompok perempuan, koperasi hingga badan usaha milik desa bukan sekadar penerima program pembangunan, tetapi merupakan bagian penting dari kekuatan ekonomi bangsa.

Ketika masyarakat diberikan akses terhadap modal, pasar, teknologi, pendampingan dan kesempatan mengembangkan usaha, sesungguhnya negara sedang membangun pondasi kebangsaan dari bawah.

Kemandirian ekonomi masyarakat juga memiliki dimensi kebangsaan. Masyarakat yang memiliki sumber penghidupan yang layak akan lebih mampu membangun keluarga, menyekolahkan anak, menjaga lingkungan sosial dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan demikian, memperkuat ekonomi kerakyatan bukan semata-mata persoalan ekonomi. Ia merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan sosial dan kebangsaan.

Kearifan Lokal Banjar dan Semangat Gotong Royong

Masyarakat Banjar memiliki kekayaan kearifan lokal yang sebenarnya sangat relevan dengan gagasan ekonomi kerakyatan.

Dalam kehidupan masyarakat Banjar, terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, kekeluargaan dan semangat saling membantu yang telah tumbuh dalam kehidupan sosial masyarakat sejak lama.

Nilai kayuh baimbai, misalnya, dapat dimaknai sebagai filosofi bekerja bersama untuk mencapai tujuan. Semangat tersebut memiliki hubungan kuat dengan prinsip gotong royong yang menjadi salah satu karakter penting bangsa Indonesia.

Dalam konteks ekonomi, filosofi tersebut dapat diterjemahkan menjadi kerja sama antarpelaku usaha, penguatan koperasi, pengembangan BUMDes, kemitraan antara pemerintah dan masyarakat serta kolaborasi antarkelompok ekonomi lokal.

Masyarakat tidak harus berjalan sendiri-sendiri.

Petani dapat membangun kelompok usaha. Pengrajin dapat membangun sentra produksi. Pelaku UMKM dapat membangun jaringan pemasaran bersama. Desa dapat mengembangkan BUMDes berdasarkan potensi lokal. Anak-anak muda dapat memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar produk masyarakat.

Dengan cara demikian, kearifan lokal tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga dapat menjadi modal sosial untuk membangun ekonomi masyarakat.

Dari Nilai Budaya Menjadi Kekuatan Ekonomi

Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mengubah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

Kabupaten Banjar, misalnya, memiliki berbagai potensi pertanian, perkebunan, perikanan, kerajinan, kuliner dan produk UMKM. Potensi tersebut akan memiliki nilai ekonomi yang lebih besar apabila dikembangkan melalui pengolahan, pengemasan, branding dan pemasaran yang baik.

Produk lokal tidak cukup hanya diproduksi. Ia harus memiliki cerita, identitas dan kualitas.

Kearifan lokal masyarakat Banjar dapat menjadi bagian dari storytelling produk. Makanan tradisional, kerajinan, hasil pertanian maupun produk olahan desa dapat dipasarkan bukan hanya sebagai barang dagangan, tetapi sebagai representasi budaya dan identitas masyarakat.

Di era digital, peluang tersebut semakin terbuka.

Anak-anak muda Banjar dapat menjadi penghubung antara produk lokal dengan pasar yang lebih luas. Media sosial, perdagangan elektronik dan teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk membuat konten promosi, desain kemasan, katalog digital hingga strategi pemasaran.

Dengan demikian, modernisasi tidak harus menghilangkan identitas lokal. Justru teknologi dapat digunakan untuk memperkuat dan memperkenalkan identitas tersebut kepada pasar yang lebih luas.

Pancasila Harus Hadir di Tengah Persoalan Ekonomi Rakyat

Memaknai Hari Kesaktian Pancasila juga berarti melihat persoalan kebangsaan dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Pancasila akan terasa maknanya ketika petani mendapatkan harga yang layak atas hasil produksinya. Ketika UMKM memperoleh akses pasar. Ketika anak muda memiliki kesempatan membangun usaha di daerahnya. Ketika desa mampu mengelola potensi ekonominya. Dan ketika pembangunan memberikan kesempatan yang adil bagi masyarakat kecil untuk berkembang.

Karena itu, pembangunan ekonomi seharusnya tidak hanya diukur dari besarnya investasi atau pertumbuhan angka ekonomi, tetapi juga dari seberapa besar manfaat pembangunan tersebut dirasakan masyarakat.

Ekonomi kerakyatan membutuhkan keberpihakan pada penciptaan kesempatan, bukan sekadar bantuan sesaat.

Masyarakat perlu didorong menjadi pelaku ekonomi yang mandiri. Pemerintah berperan menciptakan ekosistem yang memungkinkan masyarakat tumbuh melalui regulasi, infrastruktur, pembiayaan, pendidikan, pendampingan dan akses pasar.

Di sinilah semangat Pancasila bertemu dengan kearifan lokal.

Menjaga Pancasila dari Desa

Ada kecenderungan bahwa pembicaraan mengenai Pancasila selalu ditempatkan dalam ruang politik dan kenegaraan. Padahal, kekuatan Pancasila justru dapat dibangun dari ruang-ruang sosial paling dekat dengan masyarakat.

Dari desa.

Dari pasar tradisional.

Dari kelompok tani.

Dari UMKM.

Dari koperasi.

Dari keluarga.

Dari tradisi gotong royong masyarakat.

Jika masyarakat desa memiliki kekuatan ekonomi dan hubungan sosial yang sehat, maka sesungguhnya kita sedang membangun fondasi kebangsaan yang kokoh.

Karena itu, Hari Kesaktian Pancasila dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali kesadaran bahwa membangun Indonesia tidak selalu harus dimulai dari proyek-proyek besar.

Kadang-kadang ia dimulai dari hal sederhana: membeli produk tetangga, mengembangkan usaha masyarakat, menjaga pasar lokal, menghidupkan koperasi, mengembangkan BUMDes, melestarikan budaya dan mengajarkan kepada generasi muda bahwa keberhasilan tidak harus meninggalkan akar budaya.

Pancasila yang Hidup dalam Kehidupan Masyarakat

Kesaktian Pancasila bukan hanya tentang sejarah masa lalu. Ia juga tentang kemampuan nilai-nilai Pancasila menjawab tantangan masa kini dan masa depan.

Bagi masyarakat Banjar, semangat tersebut dapat diwujudkan dengan menjadikan kearifan lokal sebagai kekuatan sosial sekaligus ekonomi.

Kayuh baimbai tidak cukup hanya dikenang sebagai ungkapan budaya. Ia dapat diterjemahkan menjadi semangat membangun ekonomi secara bersama-sama.

Gotong royong tidak cukup hanya hadir dalam kegiatan sosial. Ia dapat menjadi prinsip membangun usaha bersama.

Keadilan sosial tidak cukup menjadi rumusan dalam konstitusi. Ia harus dirasakan dalam kesempatan masyarakat untuk bekerja, berusaha dan meningkatkan kesejahteraan.

Pada akhirnya, Pancasila akan benar-benar sakti apabila ia tidak hanya dihafalkan, tetapi dihidupkan.

Dan salah satu cara menghidupkannya adalah membangun masyarakat yang berdaya secara ekonomi, kuat secara sosial, berakar pada budaya lokal dan terbuka terhadap kemajuan.

Selamat Hari Kesaktian Pancasila.

Dari kearifan lokal, kita membangun ekonomi kerakyatan. Dari ekonomi kerakyatan, kita memperkuat persatuan. Dan dari persatuan, kita menjaga Indonesia.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *